Rabu, 06 Juni 2012

Antara Pribadi & Tanggung Jawab

Oleh: Okterlians Tapilouw

Mementingkan diri sendiri adalah sifat naluriah manusia yang turut mempengaruhi harapan dan kerinduan setiap orang yang sedang menjalani hidup !
Dimana-mana, antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab bagi banyak orang cukup hangat diperbincangkan; salah satunya "masalah kepemimpinan". "Kata orang: Periksa diri sendiri terebih dahulu baru kemudian mengerjakan sesuatu".
Menjalankan tugas dengan baik, tidak pilih kasih, dan penuh pengorbanan adalah keinginan kebanyakan "orang kecil/kalanga bawah" yang sering diperhadapkan dengan krisis hidup; dari sini, pertanyaan mendasarpun muncul - diantara mementingkan diri sendiri dan melayani "orang lain" sesuai fungsi: MANA YANG HARUS DIDAHULUKAN ?
Saya pernah mendengar ada yang mengatakan bahwa:
"Kita perlu memperhatikan diri sendiri lebih awal sebelum memperhatikan orang lain"
(Kebutuhan Keluarga = sandang, pangan & papan) harus terpenuhi lebih dahulu.
Bagi saya: melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan keluarga supaya sejahtera; ini sah-sah saja, tetapi adakalanya tidak kurang dari manusia-manusia dewasa ini yang menyalahgunakan tanggung jawab demi perut sendiri - seperti tidak memperdulikan penderitaan "orang lain" yang nyata-nyata adalah tanggung jawab kita. untuk yang satu ini, demonstrasi maupun kritikan diberbagai Media Massa terhadap pemerintah dan pemimpin-pemimpin dinegara ini, cukup menjawab kegelisahan masyarakat.
Mungkin tidak semua pemimpin di kalangan pemerintahan maupun instansi lainnya "bobrok" pasti ada juga yang "baik-baik" . Namun jika terjadi kasus-kasus besar (masalah umum), yang melibatkan orang-orang hebat di negara Indonesia ini sebagai tersangka utama: apa yang bisa kita katakan tentang yang satu ini ! Karena itu, tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa: sebagian pemimpin yang lebih memperhatikan perut sendiri - kedudukan mereka "Hanyalah Simbol Belaka"; asal sudah menduduki posisi penting (menjabat ini dan itu), bicara sangat meyakinkan tetapi untuk memberi, memberdayakan dan membangun; memberikan ampas dari sisa yang semestinya tidak boleh ditelan, namun bukan tidak mungkin bahwa sering bagi orang-orang kecil yang tak berdaya meskipun pahit, sisa atau ampas tetap saja diterima daripada tidak sama sekali.

Bagi Orang Kristen, keberadaan kita di dunia ini adalah "Karena Kasih Karunia Allah" yang oleh Yesus Kristus telah memberi dan memberdayakan umat manusia dengan pengorbanan-Nya yang murni yaitu diri-Nya sendiri sebagai tebusan; karena itulah yang diharapkan dari kita adalah "jangan menjadi seperti pemimpin yang kelihatannya mencintai masyarakat disatu pihak dan lebih mencintai diri sendiri dipihak lain. Saya mengatakan seperti ini karena Allah yang Maha Besar tidak mengasihi secara terbagi tetapi kasih yang menyeluruh (universal),,,,,,, menyayangi secara menyeluruh dan utuh, itu berarti tidak ada pemisahan seperti: mana yang penting dan mana yang tidak penting, sebaliknya semua berarti dan penting. Hanya dengan berkorbanlah kita bisa tiba pada momen ini; "tanpa pengorbanan yang sungguh, keberadaan seseorang atau kepemimpinannya hanya hiasan belaka dan kehilangan jiwanya".

Mungkin perkataan berikut ini bisa menggugah perkataan manusia-manusia sekarang ini tentang tanggungjawab yang sedang dipikul bahwa "Kristus adalah arti sisa hidupku, hidupmu, hidup kita semua".

Jadikanlah Alkitab sebagai cermin untuk memeriksa diri setiap saat, disana kita akan menemukan Tuhan yang dengan kemahakuasaan-Nya sedang menyertai penghuni bumi ini; Temuilah Dia dalam rutinitas kerja dan kehidupan orang banyak yang sedang mengharapkan respek penuh terhadap tanggungjawab yang sedang dipercayakan kepada kita.

Apakah dipundak saudara ada tanggung jawab itu ? 
  

Kamis, 24 Mei 2012

Iman Dibalik realitas

Orang sering berpatokan pada Keadaan atau realitas….. tetapi sebenarnya yang menentukan hidup kita adalah Tuhan. keadaan atau realitas itu adalah sesuatu yang harus di jalani – tidak bisa tidak dan harus dihadapi apapun resikonya.
Iman bertumbuh dalam realitas; apapun yang akan dihadapi - hadapilah dengan iman yang berpusat pada Tuhan yang terus hadir dalam realitas.

Jangan Kuatir Tentang Hari Esok

Setiap Hari pemberian Tuhan dalam hidup ini harus dimanfaatkan dengan baik - tidak perlu mengeluh karena belum punya ini dan itu dengan tetap memahami bahwa kesusahan sehari untuk hari itu ; seperti kita tidak mungkin makan hari ini untuk besok. Karena itu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya adalah menyerahkan segala kekuatiran kepada Tuhan yang memelihara kita setiap hari (bc. 1 Ptr 5:7).
Pernah Seorang bapak mengatakan kepada saya – Karena Hujan terus-menerus, dan tidak bisa membakar lahan untuk berkebun - katanya  dengan dialeg ambon sehari-hari “Katong Nanti bagimana”….. ini tidak beda dengan kuatir hari esok, kuatir tidak bisa menanam di kebun, kuatir tidak ada persediaan makanan, pada hal hujan akan berhenti pada waktunya . 
Kita masih diberi kesempatan hari ini untuk melakukan ini dan itu – jadi kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan hari ini.

Hari esok memang penting juga, dan begitu pentingnya sehingga anak-anak kita harus bersekolah, kita harus bersusah payah membanting tulang, bahkan ada yang bekerja ganda ,,,,, tetapi pada waktunya kebanyakan dari kita yang sering terlena dengan hari esok itu tidak menikmati hasil dari jerih payahnya yang belum selesai, jadi bagaimana – kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan hari ini, toh ada manfaatnya untuk hari esok. 

PENCEKALAN LADY GAGA

Pencekalan konser Lady Gaga mengingatkan kita tentang "The Virgin" pada pencekalannya di cirebon,,,,,,,!
mungkinkah ujung-ujungnya Uang ??????
Hingga detik ini, mental penghuni bangsa indonesia terus diuji ! dari orang-orang kecil sampai pada pembesar negara,,,,,,,,didalamnya ada orang-orang beriman dari berbagai agama !

Terkadang orang cenderung memojokan segala yang disangka buruk.
Dalam berbagai pembicaraan – pembahasan akan menjadi seru ketika orang sedang membahas yang jelek-jelek tentang orang lain.
Pencekalan Lady Gaga membuat dia semakin ngetop hahahahaha. Kata Gus Dur....."GITU AJA KOK REPOT" !!!

Refleksi !!!

Kita harus tiba pada suatu tahapan hidup yang ideal – katakana saja ideal Kristiani, islami atau apapun itu. Orang yang sudah tiba pada tahapan ini, tidak akan menjelek-jelekan yang buruk-buruk dari orang lain, karena dia tahu bahwa semua orang berangkat dari kesalahannya sebelum mencapai pada sesuatu yang lebih baik. Karena itu dari pada kita sibuk berbicara tentang keburukan orang lain yang belum tentu  berguna bagi dirinya, lebih baik terlibat dalam pergumulannya dan mencoba menyelesaikan bersama – hal seperti ini mau menyadarkan kita bahwa orang beragama adalah kita semua yang “Tidak bisa diukur” dalam arti tertentu, tetapi kita adalah orang-orang yang setiap saat dinilai (bagaimana keberadaan kita, apa yang sudah dilakukan, berguna bagi siapa dll).

Rabu, 23 Mei 2012

APA YANG HARUS DIUBAH !!!


Jika dunia ini ingin diubah menuju situasi yang lebih adil maka perbaikan discourse-nya; dan jauhilah praktik-praktik discourteous yang hanya merusak moral masyarakat. Mengapa demikian ? Karena wacana sebagai hasil proses konstruksi realitas itu bukan hanya menghasilkan makna, citra dan mengandung kepentingan, melainkan juga menggerakan .

Contoh :
Dunia Maya (Dumay) ,,,,,pertemanan di Facebook sangat ramai,,,,namun disebelah lain ada begitu banyak praktik-praktik discourteous yang tidak menolong dalam upaya membangun kebersamaan lintas budaya, agama, etnis, suku, sub suku dll.
Sangatlah sulit jika kebanyakan dari penghuni bumi ini masih dikuasai ego pribadi/kelompok/agama dll dan merasa lebih benar dari "orang lain"; karena itu pula berbagai forum diskusi yang diharapkan bisa mewujudkan kebersamaan yang lebih baik, adil, damai dan lainnya yang baik-baik - sulit terwujud !!!!!!!!!!!!!!!

AKSI dan KONTEMPLASI


AKSI merupakan ibadah dalam misi atau tindakan – sementara KONTEMPLASI merupakan ibadah yang lebih bersifat pribadi kepada Allah; Namun aksi dan kontemplasi – bergerak dan diam – bekerja dan beristirahat. Keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, bahkan keduanya harus berada dalam takaran yang seimbang.


Itu berarti apa yang kita lakukan dalam keseharian hidup (bekerja dikantor, kebun,melaut, membina keluarga, hubungan persahabatan dll, harus sinkron dengan kualitas rohani yang ditunjukan setelah selesai beribadah di gedung gereja, mesjid, & tempat ibadah saudara-saudara ya beragma lain). Jika ternyata tidak sinkron – ini mungkin mengindikasikan bahwa ‘beberapa diantara kita hanya sekedar cari muka atau cari status saja. Saya kira buktinya sangat banyak bahwa ada begitu banyak seperti: "orang Kristen yang mengakui dirinya Kristen, namun mereka justru menjadi batu sandungan bagi orang lain karena kelakuannya yang tidak singkron dengan imannya......."-

Kontemplasi,,,,kebutuhan mendasar yang harus dilakoni setiap saat ,,,,,jika sudah mantap,,,,,,tunjukanlah dalam Aksi. 
Aksi cermin dari kontemplasi - kontemplasi cermin dari aksi !!!!!

Senin, 21 Mei 2012

DEMOKRASI !!! (Ternyata Kaca Gedung-Gedung Megah di Negara ini harus segera dibersihkan)


Kadang orang memaknai hidup seperti menikmati hidangan lezat di Restoran ,,,,,, maksudnya : Kalau santapannya enak sebarkan ke orang lain, tetapi kalau tidak enak laporkan kepada pihak restoran _ada kecenderungan menutup-nutupi disini – karena itu banyak  yang baik-baik, enak, dan menyenangkan dari kinerja pemerintah di Negara tercinta ini dipublikasikan,,,,, bagus kan kalau yang baik-baik menjadi konsumsi seluruh masyarakat,,,,, sssssttt jangan brisik,,,,, kalau ada yang “tidak enak” laporakan kepada pimpinan.    
Sebenarnya hal-hal yang riil harus diarahkan kepada sesuatu yang lebih baik,,,,, setiap target harus didiskusikan dengan penggunaan data yang harus hati-hati.
Mungkin kita perlu jujur bahwa dalam tahapan Demokrasi kita baru masuk ke tahapan yang paling Kristis (Orang bikin sesuatu yang buruk atas nama demokrasi). Di berbagai media masa muncul begitu banyak orang hebat, tapi kata orang; sayangnya kehebatan mereka tidak lebih baik dari penjajah (tindakan –tindakan kekerasan, pemerkosaan hak dll), tidak beda dengan tindakan kolonialis.
Ada juga yang melakukan tindakan kekerasan atas nama agama, padahal yang melakukan tidak mempunyai wewenang apa-apa untuk menghukum orang lain…… makanya kalau ingin jadi hakim sekolah yang benar ha ha ha ha ha; yang berprofesi sebagai hakim saja, ada yang dikritik habis-habisan apalagi kita yang bukan hakim tetapi suka menghakimi !
Demokrasi bukan soal tata  cara semata, sebaliknya substansinya (damai, sejahtera, aman dan lainnya yang baik-baik).
Hingga tahun 2012 ini,,,,Negara yang berpancasila inipun belum sampai pada "tahapan yang ideal". saya berani mengatakan ini, karena demonstrasi, pengrusakan, pembunuhan dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya masih terjadi. 
Sampai disini ternyata selaku pelaku-pelaku demokrasi, masalah penegakan Hukum dan HAM, penyalahgunaan kekuasaan    menghiasi halaman-malaman rumah, gereja, kantor-kantor pemerintah yang berdiri megah, dll .
Wahhhhhh ternyata Kaca dari setiap bangunan harus segera dibersihkan sehingga penampakan dari dalam lebih jelas,,,, tetapi bukan hanya melihat dari dalam gedung, kita perlu keluar untuk mengambil bagian dalam kegelisahan negeri ini ; karena itu, tidaklah salah jika para pemimpin dinegara ini juga  rohaniawan harus jujur mengakui hal-hal yang belum dicapai, Bagaimana dengan Pendeta, Pastor, kiai, alim ulama dll,,,,, apakah kita sedang di tes ? Karena itu jangan pernah melihat bahwa masalah sudah selesai ….. kita masih tetap berproses dan jangan lupa bahwa masa depan republik ini terletak pada diri kita sebagai pelaku-pelaku kebaikan. Jadikanlah Tuhan sebagai pemandu kita.

"Apa Yang Harus Dilakukan"....Dialog ???


Kita cenderung memojokan segala yang tidak sesuai dengan harapan kita.
Dalam berbagai perjumpaan seperti "FORUM DIALOG" yang diharapkan bisa menampung aspirasi posit if demi kepentingan bersama,  entah dialog tentang Agama, politik, ekonomi, dll; Pembicaraan dan pembahasan akan menjadi seru ketika orang sedang membahas yang jelek-jelek tentang orang lain. Katakan saja bahwa ini bikan lagi sesuatu yang baru bahwa umat beragama yang satu mengejek dan menjatuhkan umat beragama lain, demikian pula agama Kristen yang berbeda aliran gereja (aliran yang satu menganggap lebih benar dari yang aliran gereja lainnya).  Saya berani katakan bahwa jika kebanyakan dari orang beragama khususnya "yang beragama kristen" masih seperti ini, itu pertanda sedang menunjukan ketidakdewasaan iman. Mungkin agak naif jika saya mengatak bahwa Tuhan tidak menginginkan kita berdebat dan mencari kebenaran tentang Dia dan Kuasa-Nya yang terus mengambil bagian dalam seluruh kehidupan umat manusia dari kalangan, etnis, suku, sub suku dan agama manapun di muka bumi ini. 
Dialog memang berguna untuk membangun komunikasi antar sesama,,,,namun dialog yang baik adalah yang diakhiri dengan saling mengulurkan tangan, menolong penuh kasih tanpa menyimpan misi tertentu yang sifatnya pribadi atau golongan; Bunda TERESA adalah salah satu perempuan beriman yang memberi contoh ini; dia mungkin berdialog tetapi lebih dari itu menunjukan komitmennya dalam tindakan tanpa batas - tindakan yang tidak menarik orang untuk ikut apa yang dia yakini, tetapi paling tidak dari apa yang dia lakukan banyak orang mengenal Yesus yang penuh kasih.

Ini memang tidak semudah orang mengeluarkan kata-kata tanpa bukti, namun bagaimanapun juga Kita harus tiba pada suatu tahapan hidup yang ideal – katakana saja ideal Kristiani. Orang yang sudah tiba pada tahapan ini, tidak akan menjelek-jelekan yang buruk-buruk dari orang lain, karena dia tahu bahwa semua orang berangkat dari kesalahannya sebelum mencapai pada sesuatu yang lebih baik. Karena itu dari pada kita sibuk berbicara tentang keburukan orang lain yang belum tentu  berguna bagi dirinya, lebih baik terlibat dalam pergumulannya dan mencoba menyelesaikan bersama – hal seperti ini mau menyadarkan kita bahwa orang percaya adalah kita semua yang “Tidak bisa diukur” dalam arti tertentu, tetapi kita adalah orang-orang yang setiap saat dinilai (bagaimana keberadaan kita, apa yang sudah dilakukan, berguna bagi siapa dll). 

"Kasus" !!!

Banyak orang sering merasa kurang nyaman dengan kasus-demi kasus yang terjadi disekitar (dari orang kecil sampai kepada para pembesar Negara)  tetapi yang asal nama melihat kasus dan bicara sembarangan juga banyak – maksudnya banyak orang tidak memilah-milah kasus per kasus dan sering memakai satu kasus untuk menyalahkan semuanya dan membenarkan semua yang belum terbukti. repot juga ya – mungkin sudah terlalu banyak bikin salah sehingga tidak dipercaya lagi dalam masyarakat ha ha ha. 
Masalah-masalah disekitar kita, banyak yang sifatnya praktis realistis tetapi sulit teratasi – pada hal jelas-jelas kita telah mengetahui bahwa yang dilihat itu salah.