Oleh: Okterlians Tapilouw
Mementingkan diri sendiri adalah sifat naluriah manusia yang turut mempengaruhi harapan dan kerinduan setiap orang yang sedang menjalani hidup !
Dimana-mana, antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab bagi banyak orang cukup hangat diperbincangkan; salah satunya "masalah kepemimpinan". "Kata orang: Periksa diri sendiri terebih dahulu baru kemudian mengerjakan sesuatu".
Menjalankan tugas dengan baik, tidak pilih kasih, dan penuh pengorbanan adalah keinginan kebanyakan "orang kecil/kalanga bawah" yang sering diperhadapkan dengan krisis hidup; dari sini, pertanyaan mendasarpun muncul - diantara mementingkan diri sendiri dan melayani "orang lain" sesuai fungsi: MANA YANG HARUS DIDAHULUKAN ?
Saya pernah mendengar ada yang mengatakan bahwa:
"Kita perlu memperhatikan diri sendiri lebih awal sebelum memperhatikan orang lain"
(Kebutuhan Keluarga = sandang, pangan & papan) harus terpenuhi lebih dahulu.
Bagi saya: melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan keluarga supaya sejahtera; ini sah-sah saja, tetapi adakalanya tidak kurang dari manusia-manusia dewasa ini yang menyalahgunakan tanggung jawab demi perut sendiri - seperti tidak memperdulikan penderitaan "orang lain" yang nyata-nyata adalah tanggung jawab kita. untuk yang satu ini, demonstrasi maupun kritikan diberbagai Media Massa terhadap pemerintah dan pemimpin-pemimpin dinegara ini, cukup menjawab kegelisahan masyarakat.
Mungkin tidak semua pemimpin di kalangan pemerintahan maupun instansi lainnya "bobrok" pasti ada juga yang "baik-baik" . Namun jika terjadi kasus-kasus besar (masalah umum), yang melibatkan orang-orang hebat di negara Indonesia ini sebagai tersangka utama: apa yang bisa kita katakan tentang yang satu ini ! Karena itu, tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa: sebagian pemimpin yang lebih memperhatikan perut sendiri - kedudukan mereka "Hanyalah Simbol Belaka"; asal sudah menduduki posisi penting (menjabat ini dan itu), bicara sangat meyakinkan tetapi untuk memberi, memberdayakan dan membangun; memberikan ampas dari sisa yang semestinya tidak boleh ditelan, namun bukan tidak mungkin bahwa sering bagi orang-orang kecil yang tak berdaya meskipun pahit, sisa atau ampas tetap saja diterima daripada tidak sama sekali.
Bagi Orang Kristen, keberadaan kita di dunia ini adalah "Karena Kasih Karunia Allah" yang oleh Yesus Kristus telah memberi dan memberdayakan umat manusia dengan pengorbanan-Nya yang murni yaitu diri-Nya sendiri sebagai tebusan; karena itulah yang diharapkan dari kita adalah "jangan menjadi seperti pemimpin yang kelihatannya mencintai masyarakat disatu pihak dan lebih mencintai diri sendiri dipihak lain. Saya mengatakan seperti ini karena Allah yang Maha Besar tidak mengasihi secara terbagi tetapi kasih yang menyeluruh (universal),,,,,,, menyayangi secara menyeluruh dan utuh, itu berarti tidak ada pemisahan seperti: mana yang penting dan mana yang tidak penting, sebaliknya semua berarti dan penting. Hanya dengan berkorbanlah kita bisa tiba pada momen ini; "tanpa pengorbanan yang sungguh, keberadaan seseorang atau kepemimpinannya hanya hiasan belaka dan kehilangan jiwanya".
Mungkin perkataan berikut ini bisa menggugah perkataan manusia-manusia sekarang ini tentang tanggungjawab yang sedang dipikul bahwa "Kristus adalah arti sisa hidupku, hidupmu, hidup kita semua".
Jadikanlah Alkitab sebagai cermin untuk memeriksa diri setiap saat, disana kita akan menemukan Tuhan yang dengan kemahakuasaan-Nya sedang menyertai penghuni bumi ini; Temuilah Dia dalam rutinitas kerja dan kehidupan orang banyak yang sedang mengharapkan respek penuh terhadap tanggungjawab yang sedang dipercayakan kepada kita.
Apakah dipundak saudara ada tanggung jawab itu ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar